Selasa, Desember 08, 2009
Banjir Semakin Mewabah

Musim hujan telah tiba. Inilah yang ditunggu-tunggu sekian banyak orang setelah bersabar menghadapi musim kemarau yang terik. Petani adalah salah satu pihak yang diuntungkan saat musim hujan tiba. Sawah akan selalu basah oleh air hujan. Begitu juga para nelayan. Dengan datangnya musim hujan, air laut akan semakin sering mengalami pasang. Dengan begitu, ikan-ikan pun akan semakin mudah didapatkan.
Namun, tak sepenuhnya musim hujan membawa berkah bagi semua orang. Banyak orang mengatakan, musim hujan datang berarti musim banjir juga datang. Sampai saat ini, sudah banyak tempat-tempat atau wilayah-wilayah yang tergenang air bah. DKI Jakarta berada di peringkat pertama dari sekian banyak kota yang tenggelam dalam banjir. Ya, Jakarta bukan berjuluk sebagai Kota Hujan, namun sebgai Kota Banjir. Hampir 65% wilayah di Jakarta tak pernah absen digenangi air banjir. Bahkan, semakin lama banjir bukannya turun, tetapi semakin naik mengingat hujan tak kunjung reda. What’s the problem?
Semua orang akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban sampah. Jelas saja, sungai-sungai di Jakarta yang seharusnya berisi air jernih yang mengalir malah berisi sampah yang menumpuk. Sungai pun berubah fungsi menjadi tempat sampah. Ini penyebab utamanya. Sungai berfungsi sebagai pengalir air hujan yang turun menuju laut. Namun yang terjadi adalah air tersebut tersumbat oleh sampah yang menumpuk. Terjadilah banjir.
Hal seperti ini tak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan sebagainya. Di kota-kota kecil pun tak jarang ditemui kejanggalan seperti ini. Sering juga kita mendengar masyarakat seolah menyalahkan pemerintah terhadap banjir yang mewabah. Mereka menuntut pemerintah untuk segera menyelesaikan pekerjaan rumah tentang banjir yang melanda tanah air. Mereka juga menilai kinerja pemerintah kurang maksimal dalam menangani masalah seperti ini.
Seharusnya, tak pantas jika masyarakat Indonesia menyalahkan sepenuhnya masalah ini pada pemerintah. Kita patut introspeksi diri, bukannya menyalahkan salah satu pihak. Yang terjadi sebenarnya adalah rasa kurang peduli masyarakat Indonesia. Mereka sering meremehkan sampah yang terlihat sepele. Misalnya, berawal dari sampah pembungkus makanan ringan. Sampah ini akan bertambah jika tak ada satu pun orang yang sadar, bahwa sampah yang dianggap remeh ini akan menjadi bahaya besar.
Langkah utama untuk menyelesaikan masalah ini adalah menumbuhkan rasa peduli dan sadar diri pada diri masyarakat, bahwa membuang sampah pada tempatnya merupakan hal penting. Ada pepatah mengatakan, “bisa itu karena biasa”. Maka dari itu, biasakanlah membuang sampah pada tempatnya, dengan begitu kita akan bisa membiasakan diri melakukan hal tersebut. Tak hanya itu saja. Jika melihat sampah yang berserakan, tak ada ruginya kita memindahkannya pada tempat sampah.
Lakukan semuanya demi masa depan dan anak-cucu kita.
di
12/08/2009 10:26:00 AM
0
comment
Diposkan oleh
Fahmi Rachman Ibrahim
Label:
Sambilan
Rabu, Desember 02, 2009
Seseorang yang Mampu Mengubah Hidup Seseorang
Awalnya tak seperti ini. Bersifat egois dan bersikap emosi. Sulit memercayai orang lain. Itulah sebenarnya. Tak ada yang mampu mengubahnya, atau bahkan hanya sekedar meredakan. Semua terpaku.
Namun, sebuah masa lalu pun kembali. Masa lalu yang dulu sempat tak dihiraukan dan diragukan. Sejak masa lalu itu datang, sifat dan sikap negatif itu membelok dengan curam menjadi sabar dan mengerti. Menjadi lebih percaya.
Semua yang awalnya terpaku akan sifat keegoisan itu kini semakin terpaku. Bukan terpaku karena takut, namun terpaku karena bingung. Bingung terhadap apa yang terjadi padanya. Salah satu pun memberanikan diri untuk bertanya, what happened with you?
Jawabnya, there was someone who changed my self.
Semua yang masih terpaku pun akhirnya tersenyum. Lega karena seseorang mampu mengubah hidupnya.
Note: Tak pernah kurasakan sebelumnya. Fahmi Rachman Ibrahim and Izzah Zahrah. I won't let you go, because I love you. That's all.
di
12/02/2009 09:10:00 AM
0
comment
Diposkan oleh
Fahmi Rachman Ibrahim
Label:
Cinta
Selasa, Desember 01, 2009
Selamat Tinggal Putih Abu-Abu
Ya. Tak lama lagi kita sebagai siswa berstatus SMA akan segera meninggalkan masa Wajib Belajar 12 Tahun. Mengingat Ujian Nasional SMA yang kabarnya akan digelar pada 22 Maret, para siswa menyiapkan diri masing-masing. Tak hanya siswa, Panpel UN pun juga menyiapkan UN secara matang-matang, bahkan mungkin tak matang-matang.
Bagaimana tidak?
Hingga saat ini, meskipun surat pengadaan UN 2009-2010 telah diedarkan ke provinsi-provinsi, namun Mahkamah Agung dan Depdiknas masih terlihat belum sejalan.
Ah, kita sebagai siswa tak perlu memusingkan perdebatan mereka. Apapun format UN, yang penting kita siap menghadapinya.
Tentang "kebudayaan" pembocoran soal? Tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang yang terjadi adalah kurangmya pengamanan dan kesadaran diri dari berbagai pihak. Ada tidaknya pembocoran soal tahun ini, tentu akan memengaruhi kualitas pendidikan Indonesia.
Namun kembali pada diri kita. Pilihan adalah wajib hukumnya. Mengikuti bocoran soal dengan konsekuensi "lulus sia-sia" tanpa kualitas, atau mengerjakan soal UN secara murni dengan konsekuensi "lulus" secara berkualitas.
Waktu kita tak banyak. Mari menentukan masa depan. Jangan hiraukan omongan negatif. Pilihan ada pada diri kita.
Siapkan diri dengan baik. Agar saat bulan Juli nanti, kita bisa teriak bersama-sama.
AKU LULUS...!!!
di
12/01/2009 07:36:00 PM
2
comment
Diposkan oleh
Fahmi Rachman Ibrahim








